Postingan

Menampilkan postingan dengan label CERPEN

HUJAN, PAYUNG, DAN GEROBAK

Gambar
Aku sedang berdiri di depan toko jam, menunggu hujan lebat ini reda. Suasana hujan begini membuatku melayangkan ingatan mengenang saat-saat berada di jalan itu bersama seseorang. Bagaimana kami pernah melewati toko demi toko, mencari barang yang pas. Pas di hati pas di kantong. Aku sering kali bimbang memilih barang, suka yang itu tapi takut harganya. Mau harga yang murah, tapi takut gak bisa kepakai lama dan perlu cepat diganti. Alhasil, tak jarang pencarian dari toko ke toko itu tak membawa apa-apa. Hanya lelah yang tersisa. Tapi, dia tidak pernah mengeluhkan itu. Dia biarkan anak perempuan semata wayangnya memilih sesuka hati, mungkin pembiarannya adalah agar aku benar-benar jeli sebelum menentukan, belajar bijak. Hanya ketika begitu keterlaluan, dia pun menarik napas panjang dan langsung bergegas menuju motor yang terparkir. Pulang tanpa banyak lagi bicara, kadang tahu-tahu barang itu kelak menjadi hadiah tak terduga. Ah! Tak terasa pipiku basah, masker juga.    "Tidak bol...

KREM

Ubin-ubin itu seharusnya berwarna krem dan garis-garis pembatasnya adalah warna merah muda. Warna kremnya akan cukup menenangkan ketika berpadu dengan tembok putih. Setenang seorang wanita berbalut mukena putih berenda krem yang kini tengah bersimpuh sujud di barisan belakang mushalliin. Sujudlah dia dengan kekhusyukkan, merapatkan anggota sujudnya lekat di atas sejadahnya. Pendengarannya masih awas, sehingga ia mampu mengikuti gerakan imam yang jauh di depannya dengan tertib, tak mendahului juga tidak tertinggal. "Aku memohon ampunan padaMu Ya Allah Yang Maha Agung," ucapnya dengan suara merendah dalam aturan nafasnya yang pelan. Ia sungguh terlihat tenang. Oh begitulah orang yang merasa Rabbnya senantiasa mengawasinya. Ia berusaha taqarrub , mendekatkan dirinya dengan Rabbnya, menjauhkan pikirannya dari sibuknya dunia sebelum dan sesudah ia shalat, dan menjernihkan hati yang kian keruh ketika lepas dari mengingati Rabbnya. Srek Srek Srek! Di luar terdengar gaduh, suara-suar...

BERIKAN AKU SEBUAH BELATI UNTUK BUNUH DIRI!

Gambar
Hari ini aku seperti melayang, berjalan tak berpijak. Ada apa? Aku tak menemukan tempat. Sepagi ini, tangisanlah tempatku sendirian. Sepagi ini kutemukan misteri sendiri, sepagi ini aku racuni mentari dan karunia yang indah lainnya. Aku tak mampu menerjemahkan kata: indah, damai, dan bahagia, dalam rasa. Karena rupanya rasaku adalah hambar. Sepagi ini kutemukan percampurbauran antara masa lalu dan masa kini dalam hidupku. Monster, ia menemukan kekuatannya lagi untuk menghancurkanku yang demikian kecil yang sebentar lagi mengerdil. Sementara ia tumbuh menjadi besar sebesar ketakutanku yang mengerdilkanku setelah kemunculannya. Bagaimana aku melawannya? Aku terlalu cemas, setelah harapan yang terlalu indah, agung, dan berkilau, menyilaukan pandangan mataku. Ya, karena apa? Karena aku telah bersusah payah mengubur monster itu, dulu. Menimbunnya dengan rasa syukur dan sabar, dan dengan ulet. Sampai aku bisa dengan berani menanam keyakinan baruku akan adanya harapan. Tapi hari in...

CINTA DI SEPUCUK SURAT UNDANGAN

Gambar
TING TONG TING TONG       Bell rumah berdenting keras, mengalihkan perhatian semua yang berada di ruang keluarga.       “Biar aku saja yang buka” Dengan semangat, gadis termuda menawarkan diri.       “Mas, ada surat undangan nih. Dari teman Mas. Wah ada foto mba Keiya, Cantik banget...”Fira bersorak memandangi sebuah foto di sampul surat undangan.       “apa? Keiya...” Arya tertegun. Ada rasa kaget. rasa bersalah, rasa cemburu.. dan rasa kehilangan. Lumpuh sudah. BLANK!! ***       Pagi itu semua siswa sudah berkumpul di lapangan sekolah. Upacara rutin akan segera di mulai. Sebagian siswa harus berurusan dengan security sekolah karena terlambat, walau hanya beberapa menit. ahh menyebalkan!       Fira, gadis berkerudung tampak imut-imut maju ke depan lapang. Menghadap teman-temannya. Beberapa detik sebelumnya namanya di ...

MENJEMPUT BOLA PINGPONG

Gambar
             Bola kecil berwarna oranye bercap tiga bintang menandakan pertandingan bergengsi dan resmi. Bola yang terbuat dari celluloid itu menggelinding dan berputar indah hanya menyisakan sudut tumpul di meja berbentuk persegi panjang dengan ukuran panjang 274 cm, lebar 152,5 cm, dan tinggi 76 cm. Cepat dan jatuh tepat di ujung garis putih dan memantul lincah tak berarah. Tuk.. tuk.. tuk..bola jatuh ke lantai dan brugh ! seseorang ambrug mungkin lantai terlalu licin dipijaknya. “Arrgghhh....” Putri mengaduh sakit. Bukan karena sakit terjatuh. Juga bukan karena lantai licin, tapi seseorang disana mengepalkan tangan. Seseorang yang sangat ditakutinya, yang takut dibuatnya kecewa. ***   ( Cerpen ini dibuat based of kecintaan penulis berlatih tenis meja. Menyenangkan! Mudah-mudahan menginspirasi!)  “Asyiiikk! syukurlah masih bisa mendaftar” sorak Ana di depan meja registrasi. Apr...

CINTA PUTIH

Gambar
       Aku tak lagi tahu birunya langit, hangatnya sinar matahari pagi, merdunya kicau burung. Ah, burung itu. Si Gatot, membuatku cemburu saja, barangkali ia masih senang berjemur riang di atas dahan pohon di bawah langit yang terang. Oh aku juga rindu sekali sapaan embun pagi, atau berebut menyambut pelangi bersama adik-adik kecilku. Pelangi yang timbul karena bias cahaya matahari pada air yang ku semburkan. Tak lupa juga rutinitas yang aku lakukan, yang mengikis habis waktu luangku.Semua seperti melodi yang terus mengirama di jendela kerinduanku. Kini satu-satunya yang menjadi sahabatku adalah: aku sendiri!          Tiba-tiba ruh yang tersisa ini menjelma menjadi diriku yang lain, bersimpuh di hadapanku, menengadahkan wajahnya seperti memohonkan sesuatu untukku. Entah apa. Yang ku ingat saat ini, pekerjaanku. Yakni, mengkritisi lemahnya demokrasi para pemimpin negeri yang ternyata hanya pseudo-demokratis saja. ...

KIAT MENULIS CERPEN

Gambar
Menulis cerpen             Menulis pada dasarnya adalah menuangkan gagasan. Cerpen adalah sebuah karya tulis berbentuk fiksi dengan karakter tulisan terbatas pada jumlah tertentu, dan khasnya hanya memiliki satu klimaks dan inti cerita. Ini jelas versi (pemahaman) saya, sejauh yang dipahami. Hehe.             Tentunya sebelum menulis cerpen, baiknya calon penulis membaca (setidaknya, pernah) karya-karya fiksi, utamanya cerpen. Hal ini penting, untuk menjadi asupan gizi pertama menulis cerpen. Perumpamaannya sebuah poci (bejana air) apa yang keluar darinya pasti akan sama dengan apa yang ada di dalamnya dan isi yang ada di dalamnya tidak akan berbeda dengan apa yang dimasukkan ke dalamnya. Setuju? Jadi, usahakan membaca, membaca, membaca dan menulis segera! Kesulitan Menulis Biasanya kesulitan menulis banyak dirasakan ketika hendak memulai menulis. Misalnya dalam men...

BELUM?

BELUM Seperrti biasanya, matahari tetap disiplin memacarkan cahyanya melukis pantulan-pantulan indah berwarna-warni. Dingin, Hijau muda, embun dan semerbak harum merebak, menyegarkan. Sebuah pengkolaborasian yang sangat sempurna. Desa ini memang selalu indah. Pemukiman yang damai dan ramai dengan kelincahan ank-anak kecil. Memang biasanya anak kecil selalu lucu, menggemaskan. Seperti Reni, kemarin dan kemarinnya lagi dan seterusnya. *** “ Bunda maafin Raka ya.. Semua ini gara-gara Raka. Raka ceroboh dan lengah. Sungguh Raka minta maaf Bunda..” Raka tiba-tiba memecahkan kevakuman di ruang persegi bercat biru, dengan bau khasnya yang menyengaat. Menatap Bundanya yang sedang khusyuk mengelus dahi adiknya. “ Tidak Raka, Raka tidak bersalah. Dan tiada pula yang patut disalahkan. Bukankah kita semua telah mengetahuinya. Hanya Reni, belum tahu...” Jawab Bunda dengan nada lembutnya menenangkan putra sulungnya. Raka hanya menunduk. Dan suasana kembali hening. Bukan. Bukan heni...