HANYA MOTOR
Hari ini dia pergi, mengikuti hobinya. Aku tak ada masalah pada awalnya. Aku sudah tanya betul-betul, "Mau pergi naik apa?" Dia jawab, "Motor". Kita masing-masing punya motor, aku motor hadiah dari Bapakku, warisan. Dia punya motor dari tempat kerjanya, inventaris. Aku kira yang dia maksud adalah motor inventaris itu, yang beberapa hari sebelumya ia periksa dan rawat betul-betul. Mulai dari perbaiki body, mesin, juga jok baru.
Namun, setelah menyelesaikan sarapan, aku dibuatnya terkejut. Dia tanpa berkata apa-apa, pergi ke rumah orang tuanya. Kukira akan mencari pisau yang ia tanyakan sebelumnya padaku yang membuatku menyudahi menyuapi anakku. Bukan itu rupanya.
Kakak ipar datang. Aku baru cuci tangan. Dia mengambil motorku. Lalu anakku bertanya padanya, "Uwa mau ke mana?" "Mau nganterin Bapak," jawabnya.
Aku melongo. Melihat dia yang bersiap-siap memakai sepatunya. Tak ada upaya menjelaskan, apa arti semua gerakan. Aku menghela nafas, kupikir aku telah membuat kesalahan. Hatiku entah kenapa terasa terganggu. Rupa rupa pertanyaan sulit kuungkapkan. Tapi lambungku mulai merasakan cairan racun yang mmebuatnya nyeri.
Baiklah biar kutuliskan saja perasaan itu di sini, di blog yang mungkin tak akan pernah dibacanya.
Kenapa kamu tak memintaku saja yang mengantarkan? Bukankah sebelumnya aku juga pernah mengantarkanmu, ke tempat yang sama. Dan aku juga telah menguasai motorku sendiri. Apa sulitmu mengatakan hal se remeh itu padaku? Apa gara-gara RAB yang kau sendiri yang memintaku menyusunkannya?
Aku tak mengerti jalan pikiran orang lain, dirinya, juga terkadang gak ngerti pikiranku sendiri.
Aku tak kuasa membendung rasa sedihku itu sendiri, maka ketika dia mengangkat ranselnya dan hendak berangkat aku mencoba meringankan buncahan rasa sesak itu dengan lontaran satu tanya saja, "Kenapa kamu tak mau aku yang anterin?"
Dengan hanya satu kalimat itu saja, sebenarnya tidak mewakili banyak tanyaku, andai kau tahu.
"Yasudah, jangan ada yang anterin aja kalau direbutin begini." Jawabnya.
"Enggak rebutan ko, aku cuma nanya."
Satu dekade pernikahan, rasanya kita belum berteman?
Komentar
Posting Komentar
Terimakasih atas kunjungannya, semoga bermanfaat.