MENUNGGU ESOK

 Bagaimana rasanya senang?

Bagaimana rasanya takut?

Besok anak pertamaku memulai belajar di kelas barunya di sekolah. Aku tidak tahu apakah masih perlu mencemaskan bersama siapa ia akan sebangku? Sejauh ini aku rasa hal itu tidak akan begitu penting untuk kupikirkan. Aku cukup senang dan tenang, karena aku rasa aku telah menyiapkan yang terbaik buatnya. Buku tulis bersampul, pensil dan pensil warna lengkap rautannya, penggaris aneka bentuk, tas, baju, dan sepatunya semua baru. Kuharap itu mencukupkannya untuk bersyukur dengan semua privilese yang diterimanya. Dia telah berusaha belajar dengan baik, bapaknya juga telah bekerja begitu keras, sehigga kupikir mereka berdua sangat layak untuk mendapatkan kehormatan dariku: kubelanjakan yang terbaik. :D Apalagi, aku mah tinggal belanjain aja kan, suamiku pantas melihat anaknya bersinar, semangat, sumringah, dan bangga padanya.

Hal yang paling membuatku sungguh deg degan, adalah bahwa anak keduaku besok juga akan memulai petualangan barunya di sekolah. Aku rasa ini tidak akan sulit mengingat ia sudah terbiasa pergi bermain ke sekolahnya sejak kakaknya masih di sana dulu. Aku hanya sedikit cemas jika ia masih butuh bantuanku untuk berteman. Ah tidak, kuharap dia dimudahkan untuk bersosial di sana. Akhir-akhir ini ia sudah cukup bisa mengendalikan diri dengan lingkungannya. Ada dua anak tetangga yang juga sama-sama masuk TK itu tahun ini. Harusnya aku juga tidak khawatir karena anak tetangga paling dekat rumahnya juga telah bersekolah di sana. Mereka akrab sekali.

Aku sudah menyiapkan tas, sepatu, botol minum, dan kaos kaki. Mungkin besok kupakaikan ia baju kaos lengan panjang dengan trouser abu. Akan kubekali ia dengan malkis, tapi sebelum berangkat tentusaja akan kupastikan kedua anakku makan dengan baik.

Menu tadi sore sepertinya masih jadi favorit mereka, tempe dan telur goreng, haha. Aku hanya perlu mencuci sebentar botol minum mereka dengan air hangat, mengisi wadah bekal dengan roti, pisang, krekers, cukup kali ya? :D

Mungkin besok adik masih harus kutunggui di sekolah. Jika tidak, mungkin aku bisa mulai merencanakan workout selama adik sekolah, lumayan lah ya dua jam, haha. Selain nyuci, nyapu, ngepel, masak, harusnya aku sempat jogging, angkat dumbel, senam apalah gitu di rumah. Aku harus semangat juga. Ini adalah tantangan fase baru, melepas semua anak sekolah. Apakah suamiku berharap rumah semakin bersih rapi tertata? mungkin perlu aku tanyakan, tapi rasanya aku tak ingin menyulitkan diri :D Tapi melihat aku bahagia, seger, cerita, positif vibe, kuyakin dia sangat setuju dan semakin mencintaiku then. :D

Oke, sekian untuk cerita hari ini. Oh hari libur terakhir yang ditutup dengan menghadiri acara ulang tahun anak tetangga yang luar biasa ramai. Mungkin besok dan seterusnya aku akan kembali menuliskan catatan catatan seperti ini. Hanya sebagai refleksi, agar aku lebih sehat. eh haha. Agar tanganku semakin lihai mengetik dengan sepuluh jari :D

Gak tahu deh kenapa dia kalau difoto jarinya begitu
Gak tahu deh kenapa kalau difoto tangannya begitu

Bu dokter, cerita hari pertamanya sungguh kunantikan



Komentar